Kamis, 31 Desember 2009

Film Kontroversi : "Merdeka 17805 atau Dokuritsu 17805"

Film kontroversi berikutnya adalah "Merdeka 17805" atau " Dokuritsu 17805". beberapa pengamat film di indonesia sangat prihatin melihat film ini. Film yang disutradarai oleh Yukio Fuji Skenario : Ishimatsu Aibutsu Pemain : Jundai Yamada, Lola Amaria Produksi : Tokyo Film Production Asano-san menceritakan tentang proses menuju kemerdekaan indonesia. Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Soemadi D.M. Brotodiningrat mengatakan :

…Saya menghimbau agar bagian-bagian adegan film yang tidak patut atau berlebihan dapat dihilangkan. Khususnya adegan seorang nenek tua Indonesia mencium kaki tentara Jepang pada bagian awal film tersebut, yang merendahkan martabat dan melukai hati bangsa Indonesia….
Tentunya kini kejengkelan Soemadi bertambah hebat. Itu lantaran film Merdeka yang diprotesnya tetap beredar di bioskop-bioskop Jepang tanpa menghilangkan beberapa bagian yang dianggap melukai hati bangsa itu.


menurut info sich..awal mulai kontroversinya itu saat bulan juni 2000, disaaat para sineas jepang mengajukan izin membuat film berjudul Merdeka 17805 atau Dokuritsu 17805 di Indonesia kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang. Mereka bekerja sama dengan Rapi film. Pihak kedutaan kemudian berpendapat bahwa ada beberapa bagian sinopsis yang kurang akurat dan harus diperbaiki. Dan pada bulan februari 2001, pihak KBRI diundang untuk melihat preview film tersebut, dan betapa terkejutnya mereka melihat bagaimana film itu menonjolkan Jepang sebagai juru selamat.
salah satu adegan yang dianggap keterlaluan, yaitu saat adegan seorang ibu tua mencium kaki serdadu Jepang, hal ini sangat membuat sesak di dada seolah indonesia sangat rendah dimasa itu. Sejarah memang berisi paradoks. Peran Jepang dan sikap Indonesia terhadap Jepang di masa itu tentunya tak bisa dibuat sebagai suatu sikap yang homogen. Apalagi mengingat begitu banyak catatan yang memperlihatkan sikap Sukarno terhadap romusha. Itulah sebabnya, membuat film dengan latar belakang sejarah akan selalu penuh problem, terutama karena buku-buku sejarah sering melupakan sikap masyarakat yang luar biasa tertindas di masa pendudukan Jepang.

sumber : MBM Tempo

Film Kontroversi : "Suster Keramas"


Kali ini kita ngak jalan-jalan dulu yaa...tapi kita bahas nich film2 yang dilarang penayangannya di indonesia, kita bahas satu persatu yuuk..
dimulai dengan film "Suster Keramas"...
Entah apa yang ada di benak Maxima Pictures. Setelah sebelumnya berniat mendatangkan Miyabi untuk film ‘Menculik Miyabi’, kali ini Maxima Pictures kembali membuat kontrversi dengan mendatangkan bintang porno Jepang lainnya. Film Suster Keramas yang disutradarai oleh Helfi Kardit ini menghadirkan bintang porno asal Jepang yaitu Rin Sakuragi.
karena penasaran, saya berusaha untuk melihat trailer film tersebut di Youtube, dan ternyata apa yang dibuat oleh Maxima Picture kali ini banyak mengandung adegan2 syur.

dapat info lagi klo Majelis Ulama Indonesia (MUI) samarinda mencekal film yang dibintangi aktris porno jepang, Rin Sakurangi, bahkan MUI secara terang-terangan memberikan 5 alasan memprotes film ini yaitu :
1. dari judulnya, suster keramas. keramas itu identik dengan mandi setelah bersetubuh
2. Bintang filmnya, bintang film porno jepang
3. ada adegan syur
4. dari sinopsisnya, yidak ada nilai pendidikan
5. sejak pembuatan awalnya sudah menuai kontroversi (sumber dari detikhot).

ini ada beberapa adegan dalam film Suster keramas :





Kabupaten Kaimana, Papua


Kali ini kita jalan-jalannya ke papua, tepatnya di kabupaten kaimana. kita baca dulu informasi dari paman Wikipedia indonesia yaa....(Heee..heee..).
Kabupaten Kaimana adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Kaimana. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 18.500 km² dan berpenduduk sebanyak 26.703 jiwa (2000).Secara morfologi Kabupaten Kaimana meliputi wilayah datar hingga berbukit-bukit dan bahkan bergunung, dengan kemiringan lereng bervariasi mulai dari < 2% hingga di atas 70% dengan ketinggian tempat berkisar antara 0 – 2.800 m di atas permukaan laut


Kabupaten ini dapat dicapai hanya melalui transportasi udara serta laut, jalur udara dapat ditempuh dari Sorong �Faka-fak �Kaimana atau Biak-Manokwari �Kaimana, untuk jalur laut dapat ditempuh melalui Ambon � Tual- Fak-fak � Kaimana. Posisi nya yang strategis dengan laut Arafura disebelah selatan dihiasi alam pegunungan berdinding bebatuan dan beberapa goa berada disisi utara hanya dibelah dengan jalan utama kota, pantai pasir putih membentang sepanjang bibir pantai dihiasi nyiur melambai serta hutan bakau. dikala surut karang putih menyembul membentuk relief alam yang indah.


Untuk selam dapat dinikmati panorama bawah laut disekitar pulau Triton yang juga menyuguhkan lukisan dinding berupa telapak tangan serta gambar-gambar reptil, merupakan salah satu peninggalan masyarakat purba dapat ditempuh sekitar tigapuluh menit dengan menyewa perahu �long boat� milik penduduk. Laut juga memberikan tempat bagi penggemar memancing dengan lokasi �fishing spot� dengan beberapa jenis ikan laut diantaranya ikan Cakalang/Tuna, Raja Bau, Bintana, Kerapu, Marlin, Hiu, Tenggiri, bagi masyarakat setempat cara trasidional menggunakan �bubu� untuk Menangkap Lobster. karena berhadapan dengan laut arafuru..sehingga profesi penduduk lokal adalah sebagai nelayan...
menurut info sich....kabupaten kaimana mempunyai 905 jenis ikan...woooww....banyak juga yaa...
pantesan aja..semua mayoritas penduduknya adalah nelayan....
tetapi..bukan hanya sebagai nelayan..sebagian kecil penduduk kaimana berkebun dan bertani, beberapa diantaranya adalah Kelapa Sawit, Kakao, Jagung, Padi, Ketela Rambat, Kacang Hijau.
Hutan juga memberikan keragaman hayati berupa; kayu Gaharu, Pala Hutan, Binuang, kayu Masohi sebagai bahan parfum serta kayu Minyak Lawang atau �cinnamomum culilawan� dengan species burung cendrawasih, Kakak Tua Jambul, Nuri Kepala Hitam, serta Mambruk.

kayaknya seru dech klo kita ke sana.....hehheheh

Twitter Facebook More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review